Phdi Pusat Canangkan Rapat Tanggapi Polemik Iskcon

Pria yang juga akrab disapa Bendesa Agung ini menjelaskan, bahwa suasana yang panas akibat polemik Hare Krishna di masyarakat khususnya di media sosial memang harus segera didinginkan. Ia mengaku MDA Bali dan PHDI Bali akan menyelesaikan masalah ini dengan tuntas, sehingga kedepannya tidak ada lagi keributan soal ini yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan di Bali. Kenak menjelaskan, PHDI sesuai dengan tupoksinya mengayomi umat Hindu, tentu mengedepankan dialog dalam penyelesaian persoalan ini. Ia menyayangkan adanya umat Hindu yang terprovokasi atas polemik ini, sehingga melakukan hujatan di media sosial. ” Tim Komunikasi, Mediasi, Advokasi yang dibentuk PHDI Bali sudah bekerja.

Brahma-Madhva-Gaudiya sampradaya, mengacu pada nilai-nilai tradisional yang berasal dari pemahaman Dewa Brahma. Artinya Hare Khrisna mengklasifikasikan diri sebagai tradisi monoteistik, melihat banyak bentuk Wisnu sebagai perluasan atau inkarnasi dari Tuhan Yang Maha Esa– Krishna.

  • ” Hari ini inti dari masukannya, pointnya meminta PHDI Pusat untuk evaluasi ISCON yang terdaftar di PHDI Pusat,” imbuhnya.
  • Rapat yang digelar di Kantor PHDI Bali, Rabu (22/7) kemarin untuk meminta PHDI bergerak cepat, agar masalah ini tidak berlarut-larut. Polemik ISKCON Hare Krishna /li>
  • ” Hari ini inti dari masukannya, pointnya meminta PHDI Pusat untuk evaluasi ISCON yang terdaftar di PHDI Pusat,” imbuhnya.
  • Pihaknya word play here mengaku belum ada jawaban resmi dari PHDI pusat karena pusat masih menunggu beberapa tahapan yang harus dilalui mulai dari koordinasi dengan sabha walaka, juga koordinasi dengan sabha pandita.

Sebelum ini, nama Veda untuk daerah itu adalah Bharath Varsha, di mana banyak orang masih lebih suka menyebutnya dengan nama itu. Ia melanjutkan, dalam rangka menjaga situasi yang aman dan kondusif, PHDI Provinsi Bali mengaimbau agar ketua Yayasan ISKON maupun ketua Yayasan ISKCON Indonesia memberitahukan kepada seluruh anggotanya untuk tidak melakukan kegiatanHare Krisna di ruang publik untuk menghindari gesekan dengan masyarakat. Pria yang juga akrab disapa Bendesa Agung ini menjelaskan bahwa suasana yang panas akibat polemik Hare Krishna di masyarakat khususnya di media sosial memang harus segera didinginkan. Ia mengaku MDA Bali dan PHDI Bali akan menyelesaikan masalah ini dengan tuntas, sehingga kedepan tidak ada lagi keributan soal ini yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan di Bali. ” Sikap PHDI dan Majelis Desa Adat Provinsi Bali tegas atas keberadaan Hare Krishna di wilayah desa adat yang mengganggu ketertiban umum, supaya ditindak tegas secara hukum,” tandas politisi senior mantan Bupati Tabanan dua kali periode yang kini juga menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Daerah PDIP Bali ini. Maka dari itu, dalam rangka menjaga situasi yang aman dan kondusif, PHDI Provinsi Bali mengimbau agar ketua Yayasan ISKCON maupun ketua Yayasan ISKCON INDONESIA memberitahukan kepada seluruh anggotanya untuk tidak melakukan kegiatan Hare Krishna di ruang publik untuk menghindari gesekan dengan masyarakat.

Tim Yustisi Kota Denpasar Lakukan Test Quick Antigen Terhadap Pelanggar Prokes.

Orang lain juga telah menggunakan istilah Sanatanis atau bahkan Dharmists, keduanya lebih dekat ke arti sesungguhnya dalam budaya Weda. Kemudian, ketika penyerbu Muslim tiba dari tempat-tempat seperti Afghanistan dan Persia, mereka menyebut Sungai Sindhu sebagai Sungai Hindu. Kata ini digunakan oleh Muslim asing untuk mengidentifikasi orang-orang dan agama di mana orang-orang tersebut tinggal di daerah itu. Setelah itu, bahkan orang Indian sesuai dengan standar tersebut sebagaimana ditetapkan oleh mereka yang berkuasa dan menggunakan nama-nama Hindu dan Hindustan. Sebaliknya, kata itu tidak memiliki makna kecuali orang-orang memberinya arti atau sekarang digunakan di luar kegunaan. Beberapa sumber melaporkan bahwa Alexander Agung yang pertama kali merubah nama Sungai Sindhu menjadi Indu, menghilangkan huruf “S”, guna memudahkan pengucapan bagi orang Yunani. Kekuatan Macedoniannya sesudah itu disebut daratan timur Indus sebagai India, sebuah nama yang digunakan terutama selama rezim Inggris.

Tokoh ISKCON di Amerika menolak tuduhan bahwa kegiatan Hare Krishna ilegal di Indonesia. Diantaranya, mendesak PHDI untuk membubarkan Hare Krishna, mengeluarkan Hare Krisna dari agama Hindu dan PHDI, mencabut pengayoman PHDI terhadap ISKCON/Hare Krishna, penarikan buku-buku pelajaran siswa SD yang memuat konten Hare Krisna dan tidak sesuai dengan tradisi budaya dan kearifan lokal di Bali. Prabhupada memaknai “Hindu” dalam konteks nama yang berasal dari sebutan untuk penduduk di sekitar sungai Sindhu untuk menyebut orang yang berasal dari India, atau agama yang berasal dari India.

Phdi Bali Desak Phdi Pusat Segera Sikapi Hare Krisna.

” Generasi kita terancam. Ajaran HK sendiri menentang panca yadnya terutama tentang binatang. Terlebih, mereka menyebarkan ajaranya ke generasi muda dengan menyisir sekolah-sekolah,” ungkapnya. Aksi ini merupakan aksi penolakan terkait berkembangnya ajaran Hare Krisna di Bali. Namun dengan terus-menerus dan meningkatnya penggunaan istilah Sanatana dharma atau Veda-dharma, setidaknya oleh orang-orang yang lebih sadar akan definitif dasar sanskrit istilah-istilah ini, mereka akan memperoleh pengakuan sebagai istilah yang lebih tepat. Dikatakan bahwa, “Selain itu, benar bahwa nama ini telah diberikan kepada ras Arya asli daerah penyerbu Muslim untuk mempermalukan mereka. Dalam bahasa Persia, kata penulis kami, kata tersebut berarti budak, dan menurut Islam, semua orang yang tidak memeluk Islam disebut sebagai budak.

Setelah menerima masukan-masukan, langsung berangkat ke Jakarta walaupun di tengah situasi pandemi Covid-19. Selanjutnya PHDI akan meminta pertimbangan dari pihak Kementerian Agama, Kepolisian, Kejaksaan Agung,” katanya. Sebagian masyarakat Hindu juga menilai kegiatan Hare Krishna mengancam tradisi dan kebudayaan mereka.

Polemik Hare Krishna, Dprd Bali Surati Gubernur, Ini Sikap Resminya.

Ketua Puskor Hindunesia, Ida Bagus Susena mengatakan, PHDI Bali harus lebih proaktif agar kondisi tidak semakin memanas. Menurutnya, saat ini terjadi pergeseran yang tidak alamiah yang cenderung mengubah masyarakat dengan ajaran dari luar yang berkedok Hindu. Terlebih, mereka menyebarkan ajaranya ke generasi muda dengan menyisir sekolah-sekolah,” ungkapnya.